Tips Mendidik Anak Laki-laki Jadi Calon Pemimpin Hebat - Anak Belajar

Halaman

    Social Items

Mendidik anak lelaki calon pemimpin dimulai  dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga, memasak nasi, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika,  melipat baju, menyapu, mengepel, melist barang-barang di rumah yang habis termasuk bumbu dapur, berbelanja, dll
Mendidik anak laki- laki


Ada kisah seorang ibu yang memiliki 10 orang anak,  9 orang anak laki2 dan 1 orang anak perempuan, kemudian anak perempuannya ini meninggal dalam usia dini maka tinggallah 9 orang  anak lelakinya.

Ibu tersebut terpaksa menyuruh ke 9 anak lelakinya itu mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga.

Sekarang ke 9 anak lelaki ibu tersebut menjadi orang-orang yang hebat jadi pimpinan semua dikarenakan mereka dulunya sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil yang dianggap remeh temeh, seperti memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya yang kesemuanya dilakukan butuh proses atau tahapan-tahapan dan butuh kerja keras serta kesabaran.

Pekerjaan rumah tangga akan mengajarkan pada anak lelaki kita untuk berpayah-payah ketika akan makan nasi dia harus tahu berapa gelas beras yang harus ditakar, perbandingan dengan air yang dibutuhkan untuk menjadikannya sebagai nasi, harus dia tancapkan steaker listriknya kemudian memencet tombol magic com, dan harus menunggu sekitar setengah jam untuk dapat menikmati nasi tersebut. Mereka belajar bahwa mereka harus bersabar terhadap proses.

Anak lelaki yang dibiasakan melakukan pekerjaan rumah tangga maka ia akan memahami jerih payah dan kelelahan orang tuanya. Mereka pun akan mudah memahami dan menghargai orang lain termasuk istrinya kelak karena mereka , anak laki-laki kita, akan menjadi orang yang akan bertanggung jawab di dalam rumahnya juga terhadap pekerjaannya.

Itulah juga mengapa di Jepang mendidik  anak-anak lelaki dan perempuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel lantai, memasak , merajut, dll.

Bulan kemarin sebelum libur musim panas (summer), anak lelaki saya yang kelas 6 melaksanakan gasyuku yaitu kegiatan out door selama 3 hari bersama teman sekolah dan guru-gurunya. Tempat kegiatan gasyuku kali ini letaknya cukup jauh dari tempat saya tinggal yaitu di pinggir pantai atau sekitar 5 jam jaraknya dari sekolah.

Selama 3 hari dia harus belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri meliputi jadwal sholatnya, barang-barang bawaannya dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan selama kegiatan gasyuku, karena anak lelaki saya harus faham mana yang halal dan haram untuk dimakan, sering pula saya ingatkan mereka untuk menjaga pandangan dari aurat.

Sebelum berangkat sensei wali kelasnya bertanya kepada saya dan mendatangi apato kami tentang apa2 saja yang boleh dan tidak dimakan.

Mereka diajarkan mandiri seperti kegiatan yang mirip jurit malam dan memasak secara berkelompok.

Selain di sekolah di rumah anak-anak diajarkan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan belajar berpayah-payah merupakan upaya pendidik dan orang tua memberikan  Ilmu bertahan hidup (life skill).

Melibatkan anak-anak kita terutama anak lelaki dalam pekerjaan rumah diharapkan mereka akan belajar tentang bagaimana segala sesuatu itu tidak dapat dinikmati atau didapatkan secara instan, mereka akan belajar berproses dan bersabar kemudian akan muncul tenggang rasa , mendahulukan dan menghargai orang lain.

Mengapa sekarang banyak wanita-wanita hebat yang menjadi pemimpin karena dulu ia terbiasa memikul beban pekerjaan rumah tangga di rumahnya semuanya dilakukan sendiri. Oleh karena itu jika para ibu menginginkan para anak lelakinya dan perempuannya  menjadi orang hebat  tidak ada kata lain kecuali dengan melibatkan anak-anak terutama anaklelaki melakukan pekerjaan rumah tangga membentuk anak lelaki kita menjadi pemimpin.

Sebagaimana Rasulullah SAW , Beliau sejak kecil yatim piatu sehingga terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Beliau juga mengajarkan bahwa setelah usia 7 tahun maka anak-anak kita harus diperlakukan sebagai pembantu dan pelayan di rumahnya sendiri ternyata hal tersebut adalah proses pembentukan kepribadian pemimpin.

Agar di usia muda kepribadian kepemimpinan mereka telah terbentuk. Tugas mendidik itu berat namun tak ada yang tidak mungkin, ikuti saja apa yang Rasul ajarkan dan serahkan segala urusan kita termasuk hati anak-anak kita kepada Alloh yang Maha Lembut dan Maha berkuasa membolak balik setiap hati manusia termasuk hati putra-putri kita.

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a'yunin waj-'alna lil muttaqina imaama.

Ya Robb berikanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang menyejukan pandangan  dan jadikanlah mereka pemimpin dari orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Aamiin.

Selamat berjuang Ibu-ibu hebat
Okuwa, Kanazawa, Ishikawa Ken, Japan
By. Wiwik Siti Rubiah Adawiyah

Tips Mendidik Anak Laki-laki Jadi Calon Pemimpin Hebat

Mendidik anak lelaki calon pemimpin dimulai  dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga, memasak nasi, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika,  melipat baju, menyapu, mengepel, melist barang-barang di rumah yang habis termasuk bumbu dapur, berbelanja, dll
Mendidik anak laki- laki


Ada kisah seorang ibu yang memiliki 10 orang anak,  9 orang anak laki2 dan 1 orang anak perempuan, kemudian anak perempuannya ini meninggal dalam usia dini maka tinggallah 9 orang  anak lelakinya.

Ibu tersebut terpaksa menyuruh ke 9 anak lelakinya itu mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga.

Sekarang ke 9 anak lelaki ibu tersebut menjadi orang-orang yang hebat jadi pimpinan semua dikarenakan mereka dulunya sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil yang dianggap remeh temeh, seperti memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya yang kesemuanya dilakukan butuh proses atau tahapan-tahapan dan butuh kerja keras serta kesabaran.

Pekerjaan rumah tangga akan mengajarkan pada anak lelaki kita untuk berpayah-payah ketika akan makan nasi dia harus tahu berapa gelas beras yang harus ditakar, perbandingan dengan air yang dibutuhkan untuk menjadikannya sebagai nasi, harus dia tancapkan steaker listriknya kemudian memencet tombol magic com, dan harus menunggu sekitar setengah jam untuk dapat menikmati nasi tersebut. Mereka belajar bahwa mereka harus bersabar terhadap proses.

Anak lelaki yang dibiasakan melakukan pekerjaan rumah tangga maka ia akan memahami jerih payah dan kelelahan orang tuanya. Mereka pun akan mudah memahami dan menghargai orang lain termasuk istrinya kelak karena mereka , anak laki-laki kita, akan menjadi orang yang akan bertanggung jawab di dalam rumahnya juga terhadap pekerjaannya.

Itulah juga mengapa di Jepang mendidik  anak-anak lelaki dan perempuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel lantai, memasak , merajut, dll.

Bulan kemarin sebelum libur musim panas (summer), anak lelaki saya yang kelas 6 melaksanakan gasyuku yaitu kegiatan out door selama 3 hari bersama teman sekolah dan guru-gurunya. Tempat kegiatan gasyuku kali ini letaknya cukup jauh dari tempat saya tinggal yaitu di pinggir pantai atau sekitar 5 jam jaraknya dari sekolah.

Selama 3 hari dia harus belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri meliputi jadwal sholatnya, barang-barang bawaannya dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan selama kegiatan gasyuku, karena anak lelaki saya harus faham mana yang halal dan haram untuk dimakan, sering pula saya ingatkan mereka untuk menjaga pandangan dari aurat.

Sebelum berangkat sensei wali kelasnya bertanya kepada saya dan mendatangi apato kami tentang apa2 saja yang boleh dan tidak dimakan.

Mereka diajarkan mandiri seperti kegiatan yang mirip jurit malam dan memasak secara berkelompok.

Selain di sekolah di rumah anak-anak diajarkan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan belajar berpayah-payah merupakan upaya pendidik dan orang tua memberikan  Ilmu bertahan hidup (life skill).

Melibatkan anak-anak kita terutama anak lelaki dalam pekerjaan rumah diharapkan mereka akan belajar tentang bagaimana segala sesuatu itu tidak dapat dinikmati atau didapatkan secara instan, mereka akan belajar berproses dan bersabar kemudian akan muncul tenggang rasa , mendahulukan dan menghargai orang lain.

Mengapa sekarang banyak wanita-wanita hebat yang menjadi pemimpin karena dulu ia terbiasa memikul beban pekerjaan rumah tangga di rumahnya semuanya dilakukan sendiri. Oleh karena itu jika para ibu menginginkan para anak lelakinya dan perempuannya  menjadi orang hebat  tidak ada kata lain kecuali dengan melibatkan anak-anak terutama anaklelaki melakukan pekerjaan rumah tangga membentuk anak lelaki kita menjadi pemimpin.

Sebagaimana Rasulullah SAW , Beliau sejak kecil yatim piatu sehingga terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Beliau juga mengajarkan bahwa setelah usia 7 tahun maka anak-anak kita harus diperlakukan sebagai pembantu dan pelayan di rumahnya sendiri ternyata hal tersebut adalah proses pembentukan kepribadian pemimpin.

Agar di usia muda kepribadian kepemimpinan mereka telah terbentuk. Tugas mendidik itu berat namun tak ada yang tidak mungkin, ikuti saja apa yang Rasul ajarkan dan serahkan segala urusan kita termasuk hati anak-anak kita kepada Alloh yang Maha Lembut dan Maha berkuasa membolak balik setiap hati manusia termasuk hati putra-putri kita.

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a'yunin waj-'alna lil muttaqina imaama.

Ya Robb berikanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang menyejukan pandangan  dan jadikanlah mereka pemimpin dari orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Aamiin.

Selamat berjuang Ibu-ibu hebat
Okuwa, Kanazawa, Ishikawa Ken, Japan
By. Wiwik Siti Rubiah Adawiyah